...

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah jenjang pendidikan pada
pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Dasar (SD). Di
Indonesia, SMP berlaku sebagai jembatan antara Sekolah Dasar (SD) dengan
Sekolah Menengah Atas (SMA) dimana siswa yang berhak melanjutkan ke
jenjang SMP adalah siswa yang telah lulus SD dan siswa yang dapat
melanjutkan ke jenjang SMA adalah siswa yang telah lulus SMP. SMP dibagi
menjadi dua yaitu SMP Negeri dan SMP Swasta. Perbedaannya adalah
terletak dari hak otonominya. SMP Negeri merupakan sekolah milik
pemerintah kebijakannya berasal dari pemerintah. Sedangkan SMP swasta
merupakan sekolah milik perorangan atau lembaga swasta sehingga
kebijakannya berasal dari orang atau lembaga yang menaunginya
(http://www.kemdiknas.go.id).
SMP “X” merupakan salah satu sekolah swasta di kota Bandung.
Sekolah ini merupakan sekolah yang didasarkan pada nilai-nilai kristiani.
SMP “X” Bandung berada di bawah yayasan “Y” yang banyak membawahi
sekolah Kristen di beberapa kota di Indonesia. Pada tahun ajaran 2011-2012,
SMP “X” terdiri dari 26 kelas dengan jumlah keseluruhan 878 siswa.
Menurut Kepala Sekolah, SMP “X” merupakan salah satu sekolah unggulan
di kota Bandung. Hal ini dibuktikan pada tahun ajaran 2009-2010, SMP “X”
1
Universitas Kristen Maranatha
2
menjuarai UN se Jawa Barat. Para siswanya juga banyak memenangkan
kompetisi baik dari tingkat sekolah sampai ke tingkat dunia, misalnya
kompetisi Mulan Quan di Malaysia, Olimpiade Matematika dan Fisika,
Kontes Robot tingkat Nasional dan berbagai pertandingan lainnya. Sekolah
ini juga termasuk sekolah yang selektif dalam menerima siswanya karena
untuk dapat diterima di sekolah ini, calon siswa harus melewati beberapa
tahapan seleksi seperti psikotes, tes akademik dan juga tes keajegan
berdasarkan standar yang diberikan oleh yayasan dengan tujuan untuk melihat
kemampuan dari masing-masing siswanya. Kurikulum yang digunakan di
sekolah ini adalah KTSP seperti kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini
namun terdapat pengembangan dalam metode pembelajarannya.
SMP “X” memiliki tuntutan yang harus dipenuhi oleh para siswanya.
Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa SMP “X” adalah sekolah
unggulan di kota Bandung. Siswa SMP “X” dididik agar dapat berprestasi
dalam bidang akademik maupun non akademik. Selain itu para siswanya pun
diharapkan dapat memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai kristiani
yaitu kejujuran, keramahan dan integritas.
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas 8 SMP “X” Bandung. hal ini
dikarenakan siswa kelas 8 masih dihadapkan dengan tugas-tugas akademik
yang cukup banyak. Selain itu siswa kelas 8 diharapkan telah terbiasa dengan
sistem yang berlaku di sekolah dan juga tuntutan yang harus diselesaikan oleh
siswa tersebut. Sedangkan siswa kelas 7 masih beradaptasi dengan
lingkungan sekolah yang baru dan juga sistem yang baru sehingga masih
Universitas Kristen Maranatha
3
belum terlihat apakah siswa tersebut melakukan penundaan karena terbiasa
atau karena belum dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Sementara, siswa kelas 9 sudah tidak lagi disibukkan dengan tugas-tugas
sekolah karena lebih difokuskan untuk mengerjakan latihan persiapan ujian
nasional. Untuk itulah peneliti mengambil sampel siswa kelas 8 SMP “X”
Bandung.
Tuntutan penting yang harus dipenuhi oleh siswanya antara lain siswa
harus menghadiri kegiatan belajar setiap hari, mengikuti kegiatan praktikum,
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru seperti pekerjaan rumah
dan tugas kelompok, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan
lainnya. Selain itu siswa juga dituntut untuk mencapai nilai KKM (kriteria
ketuntasan minimal) yang sudah ditetapkan oleh sekolah untuk setiap mata
pelajaran. Nilai KKM untuk setiap mata pelajaran dapat berbeda-beda seperti
nilai KKM agama, PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris adalah 70,
sedangkan nilai KKM IPA, IPS, Bahasa Mandarin, Bahasa Sunda adalah 65
(untuk lebih jelasnya lihat di lampiran G). Jika ada siswa yang belum
memenuhi nilai KKM maka siswa tersebut harus mengikuti remedial.
Remedial yang diadakan dibagi menjadi dua bagian yaitu remedial teaching
dan remedial tes. Selanjutnya nilai-nilai yang diperoleh siswa tersebut dari
nilai ulangan harian, tugas, MID, pra ULUM dan ULUM akan dimasukan ke
dalam rumus perhitungan rapor. Rumus perhitungan rapornya adalah 25 %
nilai ulangan harian, 15 % nilai tugas, 20% nilai MID dan 40 % nilai ULUM.
Total nilai tersebut akan dibandingkan dengan nilai KKM dari tiap mata
Universitas Kristen Maranatha
4
pelajaran. Jadi jika ada satu mata pelajaran yang nilai rapornya belum
mencapai nilai KKM maka siswa tersebut dinyatakan tidak naik kelas.
Biasanya tiap tahun ada beberapa orang yang dinyatakan tidak naik kelas.
Agar dapat mencapai nilai yang maksimal maka dalam proses
belajarnya, siswa diharapkan dapat menyelesaikan semua tugas-tugas dan
tanggung jawab yang diberikan guru di sekolah. Pada kenyataannya, tidak
semua siswa melakukan dan menyelesaikan semua tanggungjawabnya.
Berdasarkan keterangan dari guru bimbingan konseling, didapatkan data
bahwa beberapa siswa tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas akademiknya,
misalnya mereka terlambat menyerahkan PR sesuai batas waktu yang
ditetapkan gurunya karena belum selesai mengerjakan PR tersebut. Untuk itu
guru tersebut biasanya akan memberikan perpanjangan waktu yaitu mulai dari
satu hari sampai satu minggu agar tugas tersebut selesai. Namun kurang lebih
sepertiga persen dari siswa-siswa tersebut belum juga menyelesaikan PR
sampai batas pengumpulan kedua habis. Akhirnya guru akan memberikan
hukuman dengan tidak memberikan nilai kepada siswa tersebut atau
memberikan tugas tambahan yang baru sebagai hukuman karena tugas
pertama tidak diselesaikan.
Perilaku siswa yang menunda untuk mengerjakan tugas-tugas
akademiknya dalam psikologi disebut prokrastinasi akademik. Prokrastinasi
akademik adalah suatu kebiasaan atau pola perilaku berupa penundaan,
dimana penundaan yang dilakukan sudah merupakan respon tetap yang selalu
dilakukan seseorang dalam menghadapi tugas akademik (Ferrari dkk, 1995).
Universitas Kristen Maranatha
5
Ferrari (dalam Rizvi dkk, 1997) membagi prokrastinasi menjadi dua yaitu
functional procrastination dan disfungsional procrastination. functional
procrastination adalah penundaan mengerjakan tugas yang bertujuan untuk
memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat, seperti siswa menunda
menyelesaikan tugas karena siswa mencari informasi melalui Koran, buku
pelajaran, internet dan sebagainya agar didapatkan hasil yang lebih baik.
Sedangkan disfungsional procrastination adalah penundaan yang tidak
bertujuan, berakibat jelek dan menimbulkan masalah, seperti siswa menunda
menyelesaikan PR atau tugas karena waktu yang ada digunakan untuk
bermain game. Menurut Ellis dan Knaus (dalam Ferarri, 1995) jika perilaku
penundaan itu dibiarkan maka akan menjadi trait atau sifat yang menetap.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud sebagai
prokrastinasi adalah
disfungsional procrastination.
Jika dilihat dari perkembangan psikologisnya, usia 13 sampai 15 tahun
menjadi masa stres bagi siswa. Hal ini karena adanya tuntutan yang harus
dipenuhi oleh siswa tersebut, misalnya siswa diharapkan untuk tidak lagi
bertingkah seperti anak-anak, siswa harus lebih mandiri dan bertanggung
jawab. Siswa cenderung merasa bingung dalam menghadapi perubahan yang
terjadi. Di satu sisi siswa menginginkan kebebasan seperti mengatur waktu
belajar sendiri atau mengerjakan PR sendiri, tetapi di sisi lain siswa merasa
sulit melakukan tanggung jawabnya sehingga siswa tersebut melakukan hal
yang tidak seharusnya dilakukan, misalnya tidak membuat PR, tidak mencatat
materi pelajaran dan sebagainya (Papalia dan Olds, 2001).
Universitas Kristen Maranatha
6
Berdasarkan survei awal yang dilakukan kepada 10 orang siswa kelas 8
SMP “X” Bandung, didapatkan hasil bahwa 3 orang siswa berusaha untuk
menyelesaikan tugas-tugas akademiknya dengan cara mencicil PR atau tugas
kelompok agar penyelesaiannya tidak terburu-buru. Siswa tersebut berusaha
mengatur pembuatan atau penyelesaian PR agar waktu yang ada dapat
digunakan untuk menyelesaikan semua PR tepat pada waktunya. Satu orang
siswa selalu mencatat semua PR dari setiap mata pelajaran di buku agenda
agar tidak lupa. Sepulang sekolah siswa tersebut langsung membuka
agendanya dan mulai mengerjakan PR karena takut tidak dapat selesai tepat
waktu. Sebanyak 5 orang siswa mengatakan bahwa siswa lebih senang
menyelesaikan PR secara mendadak karena hari-hari sebelumnya bisa dipakai
untuk bersantai. Siswa merasa lelah dengan kegiatan yang telah dilakukan di
sekolah sehingga sepulang sekolah lebih banyak digunakan untuk bersantai.
Namun ketika waktu pengumpulan sudah dekat, siswa akan mengerjakan
dengan terburu-buru. Bahkan 2 orang siswa mengatakan orang tua harus
marah-marah karena siswa tidur hingga larut malam demi menyelesaikan PRnya. Sedangkan 2 orang siswa mengatakan dengan sengaja menyelesaikan
PR-nya di sekolah karena lebih mudah menyalin pekerjaan temannya. Satu
orang siswa mengatakan bahwa alasan melihat pekerjaan teman adalah karena
siswa malas mencari jawaban PR tersebut di buku pelajaran atau mencarinya
di internet. Jika teman mereka pun belum mengerjakan PR tersebut maka
siswa akan meminta waktu tambahan kepada guru untuk menyelesaikan PRnya atau jika tidak diberikan waktu tambahan maka siswa akan menerima
Universitas Kristen Maranatha
7
hukuman dari guru seperti diberi nilai nol, diberi teguran secara lisan, diminta
mengerjakan PR namun nilainya hanya sama dengan nilai KKM.
Berdasarkan survei awal tersebut terdapat perbedaan dalam hal
mengerjakan PR yang dapat terkait pada perilaku prokrastinasi akademik
siswa. Berdasarkan fakta dan data di atas, peneliti tertarik untuk melihat lebih
dalam bagaimana gambaran prokrastinasi akademik pada siswa kelas 8 SMP
“X” Bandung.
1.2. Identifikasi Masalah
Dari penelitian ini ingin diketahui bagaimana gambaran prokrastinasi
akademik pada siswa kelas 8 SMP “X” Bandung.
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1. Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
prokrastinasi akademik pada siswa kelas 8 SMP “X” Bandung.
1.3.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran
derajat prokrastinasi akademik pada siswa kelas 8 SMP “X” Bandung.
Universitas Kristen Maranatha
8
1.4. Kegunaan Penelitian
1.4.1. Kegunaan Teoretis

Memberikan informasi yang diharapkan dapat memperkaya
penelitian dan pemahaman kajian Ilmu Psikologi Pendidikan
terutama mengenai prokrastinasi akademik pada siswa SMP.

Memberikan masukan bagi peneliti lain yang berminat melakukan
penelitian lanjutan mengenai prokrastinasi akademik, khususnya
pada siswa SMP.
1.4.2. Kegunaan Praktis

Memberikan informasi kepada Kepala Sekolah mengenai gambaran
prokrastinasi akademik di SMP “X” Bandung. Informasi ini bertujuan
agar dapat menjadi pertimbangan dalam membuat program belajar dan
rencana pembelajarannya.

Memberikan informasi kepada guru mata pelajaran mengenai
gambaran prokrastinasi akademik siswa sehingga guru dapat memiliki
pertimbangan dalam memberikan tugas kepada siswanya.

Memberikan informasi kepada guru Bimbingan Konseling tentang
gambaran prokrastinasi akademik sehingga guru Bimbingan konseling
memiliki pertimbangan dalam memberikan konseling yang tepat bagi
siswa yang sering melakukan penundaan.
Universitas Kristen Maranatha
9
1.5. Kerangka Pemikiran
Siswa kelas 8 SMP “X” berada pada usia 13-15 tahun, yang merupakan
tahap remaja (Papalia dan Olds, 2001). Pada tahapan ini seseorang akan
memasuki fase dimana mereka biasanya sedang berada pada masa sekolah
yaitu jenjang SMP. Pada masa ini siswa memiliki tugas-tugas sekolah yang
harus diselesaikan agar mendapatkan nilai yang maksimal. Namun ketika
siswa tersebut melaksanakan tugas-tugas sekolahnya, tidak semua siswa
dapat menyelesaikannya dengan baik. Kesulitan yang dialami antara lain rasa
malas untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah, kesulitan mencari bahan tugas,
pengaturan waktu yang kurang baik, melakukan aktivitas lain yang lebih
menyenangkan, dan sebagainya. Sebagian siswa berhasil mengatasi tantangan
maupun kesulitan yang ada sehingga dapat mengerjakan dan menyelesaikan
tugas-tugas sekolah tepat waktu. Namun sebagian lainnya mengalami
kesulitan dan hambatan dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugastugasnya sehingga tugas-tugas tersebut tidak selesai dan mendapat sanksi dari
guru mata pelajaran tersebut. Cara siswa mengerjakan tugas pun berbedabeda. Sebagian siswa mengerjakan tugasnya dengan cara mencicil namun
sebagian siswa lainnya menunda-nunda dalam penyelesaian tugas-tugas
sekolahnya. Perilaku menunda-nunda mengerjakan tugas akademik disebut
dengan prokrastinasi akademik (Ferarri, 1995).
Jika prokrastinasi akademik dilakukan berulang-ulang dan sudah
merupakan respon tetap yang selalu dilakukan siswa dalam menghadapi
tugas-tugas penting di sekolahnya maka perilaku ini merupakan perilaku
Universitas Kristen Maranatha
10
disfunctional procrastination. Ferrari (dalam Rizvi dkk, 1997) membedakan
prokrastinasi menjadi dua bagian yaitu functional procrastination dan
disfunctional procrastination. Functional procrastination adalah penundaan
yang dilakukan oleh siswa kelas 8 SMP “X” dalam mengerjakan tugas yang
bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat.
Misalnya untuk mengerjakan tugas mengarang Bahasa Indonesia, siswa
mencari dan mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti internet,
majalah, koran dan lainnya. Setelah bahan terkumpul, barulah siswa
mengerjakan tugasnya hingga tuntas dan mengumpulkannya tepat waktu.
Sedangkan disfunctional procrastination adalah penundaan yang dilakukan
oleh siswa kelas 8 SMP “X” yang tidak bertujuan, berakibat jelek dan dapat
menimbulkan masalah. Misalnya, siswa ketika diberikan tugas matematika
untuk tiga hari kemudian, siswa dengan sengaja tidak mau membuatnya
karena malas atau tidak mau berusaha. Pada saat harus mengumpulkan
tugasnya, siswa menyalin PR temannya di pagi hari di kelas sebelum
pelajaran dimulai. Perilaku ini jika dilakukan berulang kali akan menjadi
perilaku menetap sehingga menjadi disfunctional procrastination. Dalam
penelitian ini, prokrastinasi dibatasi sebagai disfunctional procrastination.
Salomon dan Rothblum (1984) menyebutkan ada enam area akademik
yang sering ditunda, yaitu tugas mengarang, belajar menghadapi ujian,
membaca, tugas administratif, menghadiri pertemuan, dan kinerja akademik
secara keseluruhan. Bagi siswa SMP “X” tugas mengarang yang dimaksud
adalah tugas mengarang dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris seperti
Universitas Kristen Maranatha
11
membuat laporan kegiatan pada pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa
Inggris. Belajar menghadapi ujian yang dimaksud adalah ketika siswa SMP
“X” belajar dalam menghadapi ulangan harian, MID semester, pra ULUM
dan juga ULUM. Tugas lain yang harus dilakukan oleh siswa SMP “X”
adalah membaca buku pelajaran dan juga materi tambahan yang diberikan
oleh guru di kelas. Selain itu ada tugas administratif yang harus dikerjakan
antara lain melakukan absensi harian dengan menggunakan kartu pelajar yang
harus di scan pada mesin absensi, mencatat tugas-tugas sekolah di agenda
atau mencatat materi yang dijelaskan oleh guru di kelas. Siswa SMP “X” juga
ditugaskan untuk menghadiri pertemuan. Pertemuan yang dimaksud di sini
adalah masuk sekolah setiap hari, mengikuti kegiatan belajar mengajar di
kelas, hadir pada jam praktikum di laboratorium, mengikuti kegiatan olah
raga di aula olah raga, remedial atau juga kerja kelompok yang dapat
dilaksanakan disekolah maupun di luar jam sekolah. Sementara kinerja
akademik secara keseluruhan yang dimaksud adalah cara bekerja siswa SMP
“X” dalam menyelesaikan seluruh tugas dan tanggung jawabnya di sekolah.
Prokrastinasi akademik memiliki empat aspek (Ferrari, 1995) yaitu
penundaan dalam memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang
dihadapi, keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara
rencana dan kinerja aktual dan melakukan aktivitas lain yang lebih
menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan. Pada siswa
SMP “X” menyadari bahwa tugas mengarang, belajar menghadapi ujian,
tugas membaca, tugas administratif, menghadiri pertemuan dan kinerja
Universitas Kristen Maranatha
12
akademik secara keseluruhan yang diberikan penting dan harus diselesaikan
namun siswa tersebut malah memilih untuk menunda untuk memulai
mengerjakan atau menunda untuk menyelesaikannya. Selain itu siswa juga
memerlukan waktu yang lama daripada waktu yang dibutuhkan sebenarnya
dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Siswa yang melakukan prokrastinasi
cenderung merasa kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugasnya sesuai dengan
batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya dan dengan sengaja
melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan seperti bermain dengan
teman, membaca buku cerita, menonton, dan sebagainya
daripada
menyelesaikan tugas-tugasnya sehingga tugas-tugas tersebut terlambat
diserahkan pada guru atau bahkan tidak selesai.
Prokrastinasi pada siswa SMP “X” tidak terjadi dengan sendirinya, ada
lima faktor yang mempengaruhinya. Salomon dan Rothblum (1984)
menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik
adalah takut gagal, tidak suka terhadap tugas, pengaturan waktu, memerlukan
bantuan orang lain, dan pengaruh teman. Faktor takut gagal adalah ketika
siswa SMP “X” merasa takut tidak dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Rasa
takut tersebut menyebabkan siswa merasa kurang yakin dapat mengerjakan
tugas-tugasnya. Ketika perasaan takut itu muncul, siswa cenderung
membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan tugas tersebut
sehingga melewati batas waktu yang ditentukan. Hal ini yang menyebabkan
derajat prokrastinasi akademiknya meningkat.
Universitas Kristen Maranatha
13
Kemudian faktor yang kedua adalah rasa tidak suka terhadap tugas.
Ketika siswa menghayati bahwa tugas yang diberikan oleh guru tidak
menyenangkan, maka motivasi dalam diri siswa untuk menyelesaikan tugas
tersebut cenderung lemah. Hal ini menyebabkan siswa malas mengerjakan
tugasnya. Ketika siswa malas mengerjakan tugasnya maka siswa tersebut
cenderung menunda mengerjakan tugas-tugasnya.
Faktor yang ketiga adalah pengaturan waktu. Siswa SMP “X” yang
memiliki derajat prokrastinasi tinggi memiliki pengaturan waktu yang buruk
dimana siswa tersebut tidak dapat memprioritaskan pengerjaan tugastugasnya yang penting dibandingkan kegiatan lain. Siswa cenderung
melakukan kegiatan lain seperti membaca buku cerita, bermain game, jalan
ke mall bersama teman, menonton televisi dan kegiatan menyenangkan
lainnya dibandingkan menyelesaikan tugas-tugasnya. Akhirnya batas waktu
habis dan tugasnya tidak dapat diselesaikan.
Faktor keempat adalah memerlukan bantuan orang lain. Semakin besar
siswa SMP “X” memiliki ketergantungan terhadap orang lain maka akan
menyebabkan semakin tinggi pula siswa tersebut melakukan prokrastinasi
akademik. Hal ini karena siswa tidak akan mengerjakan tugas-tugasnya jika
tidak ada orang lain yang membantu. Orang lain yang membantu dalam hal
ini bias teman atau orang dewasa, seperti guru mata pelajaran, orang tua atau
guru les.
Faktor terakhir yang mempengaruhi prokrastinasi akademik adalah
pengaruh dari teman. Peran teman sebaya menjadi hal yang penting dalam
Universitas Kristen Maranatha
14
pengambilan keputusan siswa. Siswa SMP “X” yang mudah dipengaruhi oleh
teman untuk menghindari tugasnya akan merasa tidak mampu menolak
ajakan temannya untuk melakukan kegiatan lain di saat ia sedang
mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. sehingga siswa tersebut menunda
mengerjakan tugasnya dan lebih memilih melakukan kegiatan lain yang lebih
menyenangkan.
Universitas Kristen Maranatha
15
Uraian di atas dapat digambarkan dalam bagan kerangka pemikiran
sebagai berikut :
Enam Area Prokrastinasi Akademik :
1.
2.
3.
4.
5.
Tugas mengarang
Belajar menghadapi ujian
Membaca
Tugas administratif
Menghadiri pertemuan
6. Kinerja akademik secara keseluruhan
ASPEK-ASPEK PROKRASTINASI AKADEMIK :
1. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada
tugas yang dihadapi.
2. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas.
3. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.
4. Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada
melakukan tugas yang harus dikerjakan.
TINGGI
SISWA KELAS
8 SMP”X”
BANDUNG
PROKRASTINASI
AKADEMIK
RENDAH
Faktor-faktor yang mempengaruhi :
1.
2.
3.
4.
5.
Takut akan kegagalan.
Tidak menyukai tugas.
Pengaturan waktu.
Memerlukan bantuan.
Pengaruh teman.
Bagan 1.5 Kerangka Pemikiran
Universitas Kristen Maranatha
16
1.6. Asumsi
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas dapat ditarik asumsi sebagai
berikut :

Dalam mengerjakan tugas-tugas akademik di sekolah, siswa kelas 8 SMP
“X” Bandung memiliki derajat prokrastinasi akademik yang bervariasi
yaitu tinggi dan rendah.

Prokrastinasi akademik yang dilakukan oleh siswa kelas 8 SMP “X” dapat
berupa penundaan dalam memulai dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah,
keterlambatan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, kesenjangan waktu
antara rencana dan kenyataan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, dan
kecenderungan untuk melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan
dibandingkan mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Prokrastinasi akademik pada siswa kelas 8 SMP “X” dipengaruhi oleh
faktor-faktor takut gagal dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, perasaan
tidak suka terhadap tugas-tugas yang diberikan, pengaturan waktu dalam
mengerjakan tugas-tugas sekolah, memerlukan bantuan orang lain dan
pengaruh dari teman.
Universitas Kristen Maranatha
Fly UP